Menarik, 7 Fakta soal Gigi Besar

Gigi yang rata dengan ukuran yang sama besar pasti sukses membuat senyum Anda lebih indah.

Namun, adanya gigi kelinci di bagian depan atas juga tidak kalah mencuri perhatian orang-orang ketika Anda tersenyum.

Berbicara mengenai gigi kelinci, tahukah Anda bahwa itu termasuk salah satu masalah kesehatan gigi besar

Gigi besar merupakan salah satu kondisi pertumbuhan gigi yang dipandang sebagai masalah oleh ilmu kedokteran gigi.

Kondisi ini sama seperti kondisi bibir sumbing ataupun karang gigi.

Sejumlah cara pun bisa Anda tempuh untuk membuat ukuran gigi besar tersebut dapat diminimalkan dan memperbaiki kualitas senyuman dan kesehatan mulut Anda. 

Namun, sebelum berpikiran untuk mengambil tindakan medis guna memperbaiki kondisi gigi besar Anda, banyak fakta menarik lainnya yang perlu disimak terkait kondisi gigi besar.

Nyatanya, masalah gigi kelinci bukan satu-satunya kondisi yang tergolong dalam masalah gigi besar!

Penyakit Langka 

Anda mungkin sudah cukup kaget ketika mengetahui bahwa kondisi gigi besar dianggap sebagai suatu penyakit yang menyangkut bagian gigi dan mulut.

Kondisi gigi besar sendiri dalam dunia medis dikenal sebagai macrodontia. Namun, Anda pasti akan lebih kaget begitu mengetahui bahwa kondisi gigi besar termasuk dalam penyakit langka.

Jadi jika Anda memiliki gigi kelinci, Anda sudah tergolong sebagai seseorang yang memiliki masalah terkait penyakit langka!

Sekelompok atau Satu 

Gigi besar tidak selalu terjadi di gigi bagian depan dan menjadi pemanis penampilan dengan istilah gigi kelinci.

Nyatanya, kondisi gigi besar dapat terjadi di seluruh bagian gigi Anda. Macrodontia bisa terjadi pada sekelompok gigi yang saling bejajar atau hanya pada satuan gigi.

Macrodontia yang terjadi pada satuan gigi akan lebih mudah untuk disadari karena penampilan gigi tersebut memiliki ukuran yang berbeda sendiri dibandingkan gigi-gigi lain yang mengitarinya.  

Kondisi Genetik Bawaan 

Penyebab umum dari kondisi gigi besar tidak lain adalah genetik.

Faktor garis keturunan dengan gangguan perkembangan atau macrodontia tidak jarang melahirkan anak-anak yang memiliki masalah serupa.

Bahkan ketika Anda memiliki saudara kandung yang menderita macrodontia, kesempatan Anda memiliki gigi besar pun menjadi lebih rentan.

Dot Berpengaruh 

Kebiasaan sewaktu kecil seperti memasukkan barang ke mulut seperti dot atau tangan, kemudian menghisapnya lebih mudah merangsang terjadinya masalah gigi besar.

Karena itulah, anak-anak yang memakai dot terlalu lama pada masak kanak-kanak umumnya mengalami kondisi macrodontia ketika gigi susunya lepas dan tergantikan dengan gigi-gigi permanen. 

Lebih Sering Ditemui di Asia

Apa etnis Anda? Pasalnya, kondisi gigi besar ternyata juga dipicu oleh etnis Anda berasal.

Kebanyakan masalah gigi besar ternyata dialami oleh masyarakat Asia.

Hal ini bisa menjawab rasa penasaran Anda mengapa kondisi gigi besar tampak tidak langka di kawasan Anda, bukan?

Hal tersebut terjadi karena Anda dan masyarakat termasuk etnis Asia. 

Minim Komplikasi 

Macrodontia atau masalah gigi besar memang digolongkan sebagai suatu penyakit atau kelainan pada gigi dan mulut.

Namun dibandingkan beragam masalah gigi dan mulut lainnya, masalah gigi besar ternyata paling minim komplikasi.

Keluhan terkait gigi besar hanya seputar pada masalah penampilan dan rasa nyeri yang kadang-kadang terasa. 

Pembesaran Wajah yang Menyertai 

Orang-orang yang memiliki kondisi gigi besar di salah satu sisi mulut ternyata bisa berpengaruh pada bentuk wajah.

Pasalnya, kondisi macrodontia di salah satu bagian mulut ini juga bisa membuat wajah Anda terlihat besar sebelah!

Macrodontia atau gigi besar pada umumnya bukanlah suatu kondisi darurat. Namun, untuk memperbaiki kualitas penampilan ataupun menghilangkan nyeri, Anda dapat melakukan sejumlah perawatan guna mengecilkan tampilan gigi, seperti dengan perawatan ortodonti, pengikiran gigi, atau bahkan pencabutan setelah berkonsultasi dengan dokter gigi berpengalaman. 

5 Mitos Orang Kidal yang Tak Perlu Dipercaya

Sejak kecil, anak-anak umumnya diajarkan untuk makan, menulis, dan melakukan banyak aktivitas lain dengan tangan kanan. Tentu saja ini akan terbawa hingga dewasa. Akan tetapi, tidak jarang pula ada yang meski sudah diajarkan untuk melakukan kegiatan dengan tangan kanan, tetap lebih nyaman menggunakan tangan kiri, alias orang kidal.

Orang kidal sendiri memang dianggap langka. Apalagi karena menurut American Psychological Association, hanya terdapat 10% orang kidal di tengah populasi manusia. Ini tentu menimbulkan banyak pertanyaan. Meski riset tentang penyebab pasti dari kidalnya seseorang juga belum banyak ditemukan, ada beberapa mitos yang terlanjur tersebar bahkan dipercayai banyak orang.

Orang Kidal Lebih Kreatif

Mitos ini muncul akibat adanya studi yang mengungkapkan bahwa orang otak bagian kiri memiliki kontrol atas tubuh bagian kanan. Sehingga muncul mitos bahwa orang kidal akan lebih banyak menggunakan otak bagian kanan, yang juga berperan penting terhadap kreativitas. Padahal, menurut sebuah penelitian, berbagai riset yang berusaha membuktikan argumen tersebut masih sangat lemah.

Meski begitu, terdapat pula fakta yang mengungkapkan bahwa orang-orang yang menggunakan tangan kanan mengandalkan otak belahan kiri untuk memproses bahasa. Sementara, bagi orang kidal, penggunaan otak kiri untuk bahasa hanya sebesar 70%. Sayangnya, alasan bagi pernyataan ini belum ditemukan.

Sehingga, mitos bahwa orang kidal lebih kreatif tidaklah benar dan hanya dilontarkan tanpa basis penelitian dan data yang jelas.

Orang Kidal Lebih Rentan Terkena Penyakit Imun dan Hidup Lebih Singkat

Pernyataan bahwa orang kidal berusia lebih singkat dibanding orang yang dominan tangan kanan muncul akibat sebuah studi yang dilakukan Diane Halpern dan Stanley Coren di tahun 1988 yang berjudul “Do right-handers live longer?”. Sementara itu, ada juga yang mempopulerkan mitos bahwa orang kidal lebih singkat usianya.

Padahal, masalah penyakit imun dan usia kehidupan bukan ditentukan dari penggunaan tangan. Pernyataan ini juga dibantah oleh Chris McManus dan Phil Byrden yang menganalisa data dari 89 riset dan mengungkapkan bahwa orang kidal tidak menunjukkan tanda-tanda kelainan sistem imun.

Orang Kidal Cenderung Introvert

Orang kidal juga disebut-sebut memiliki kepribadian yang introvert dibanding mereka yang menggunakan tangan kanan. Namun, ini merupakan mitos karena sebuah studi menemukan bahwa tidak ada perbedaan kepribadian pada orang-orang pengguna tangan kanan dan orang kidal.

Stereotip ini tidak didasarkan data empiris dan penggunaan tangan yang dominan tidak bisa serta merta menentukan kepribadian seseorang.

Orang Kidal Lebih Mungkin Menjadi Pemimpin Dibanding yang Tidak

Pernyataan ini lahir dari cocoklogi yang dilakukan oleh orang Amerika setelah melihat sejarah presiden-presiden negara adidaya tersebut. 6 dari 12 mantan presiden Amerika memang orang kidal, namun, penggunaan tangan bukanlah kualifikasi yang valid untuk menjadi pemimpin.

Mitos ini bahkan dibantah oleh Elizabeth Ochoa, seorang pakar psikolog asal Amerika. Ia menyebutkan bahwa argumen ini hanya didasarkan dari perkiraan setelah melihat beberapa fenomena pemimpin yang memiliki tangan kidal. Padahal, orang yang dominan tangan kanan pun sama-sama punya kesempatan dan kemampuan untuk menjadi pemimpin.

Orang Kidal Cenderung Lebih Cerdas

Tidak bisa dipungkiri bahwa dunia ini dibangun dan dirancang untuk memenuhi kebutuhan mayoritas orang, yakni mereka yang lebih dominan menggunakan tangan kanan. Sehingga, orang kidal perlu lebih kreatif dan memutar otak mereka untuk bisa beradaptasi di tengah-tengah masyarakat. Tak heran jika ada mitos bahwa orang kidal lebih cerdas dibanding mereka yang menggunakan tangan kanan.

Sayangnya, ini hanyalah mitos belaka. Pasalnya, sebuah penelitian menemukan bahwa tidak ada korelasi antara kemampuan berpikir seseorang dengan penggunaan tangan dominan, baik itu untuk kecerdasan intelektual maupun kognitif.